Senin, 02 Januari 2017

Awashima Jinja / Dolls Shrine

       Desember 2015 saya pergi sendiri ke Awashima Jinja. Kuil Shinto yang terletak di dekat laut ini terkenal akan boneka - bonekanya yang cukup membuat merinding. Orang Jepang percaya bahwa setiap boneka memiliki jiwa, maka boneka tidak dapat dibuang begitu saja karena dipercaya akan menghantui orang yang membuangnya seperti hantu. Yang paling populer di kuil ini adalah Hina Ningyou / boneka anak perempuan. Mata boneka ini terlihat hidup karena terbuat dari kaca. Kuil ini rutin mengadakan festival boneka Hina Nagashi setiap tanggal 3 Maret, dimana boneka - boneka Hina Ningyou akan ditempatkan di sebuat kapal kecil kemudian dilarung ke laut.

       Dari Stasiun Wakayama - Shi saya membeli tiket ke Stasiun Kada seharga 330 Yen. Perjalanan dengan kereta memakan waktu kurang lebih 5 menit. Sesampainya di Stasiun Kada, dilanjutkan dengan berjalan kaki 1.5 kilometer (dengan bantuan Google Map😀). Perjalanan menuju Awashima Jinja disuguhi dengan pemandangan laut yang indah.


Gerbang / Toori Awashima Jinja

Awashima Jinja
       Sesampainya di Awashima Jinja, banyak orang berkumpul dan berdoa. Saya melihat - lihat sekitar kuil. Tak hanya Hina Ningyou, ada pula boneka pengantin, boneka rubah, topeng, Maneki Neko, dan lain sebagainya. Kuil ini juga mempunyai tempat penyimpanan boneka di bawah tanah, tetapi tidak dibuka untuk umum. 













       Sepuasnya mengunjungi kuil, saya memutuskan untuk melihat - lihat pemandangan laut. di pinggiran dek terlihat banyak orang sedang memancing. Melewati sebuah toko es krim, saya memutuskan untuk membeli. Bagi saya es krim terasa enak meskipun dinikmati saat musim dingin😉. Di depan toko tersebut dipajang boneka Hina Ningyou lengkap.

perjalanan pulang
es krim rasa soda
boneka di depan toko
       Selain Awashima Jinja, Kada juga terkenal akan onsennya dan produk ikannya. Bagi yang berwisata ke Wakayama, silakan berkunjung ke Kada💓.

Selasa, 13 Desember 2016

Pergi ke Nara (1)


   Waktu itu saya merasa perlu hiburan. Ingin jalan - jalan agak jauh entah kemana. Tapi teman - teman yang biasa diajak untuk jalan bersama (ngebolang) berhalangan, jadi munculah ide untuk jalan sendiri. Dengan bantuan Google map, handphone plus powerbank, uang secukupnya dan modal nekat, berangkatlah dari apato pagi - pagi sendirian dari Wakayama ke Nara.

       Berangkatlah saya dari apartemen ke Stasiun Wakayama JR. Dari Stasiun Wakayama JR harus pindah kereta dahulu di Tennouji (Osaka), baru ke Nara. Total perjalanan pergi memakan waktu sekitar 2 jam. Sesampainya di Stasiun Nara, saya berjalan kaki lagi ke Nara Park yang berjarak sekitar 2,1 kilometer 😌 (sebenarnya tidak harus berjalan kaki, ada pilihan naik taksi atau bus). Stasiun Nara juga menyediakan wifi gratis, lho😃.

       Nara Park yang terkenal akan rusanya berada di kaki Gunung Wasakusa, dengan luas 660 hektar. Menurut legenda, saat ditemukan kuil Kasuga Taisha pada tahun 710 oleh Klan Fujiwara, mereka mengundang seorang Dewa dari Kashima (Ibaraki). Dewa tersebut datang dengan mengendarai seekor rusa putih.

       Pada masa itu (710) ibukota dipindahkan dari Fujiwara - kyou (Kashihara) ke Heijou - kyou, dengan mencontoh ibukota Chang'an (Xi'an) di China.

Stasiun Nara
pertokoan sepanjang jalan

Kolam Sarusawa



      Saat saya sampai di depan Nara Park, ada pertunjukan musik jalanan yang sangat bagus. Setelah menonton sebentar, akhirnya saya melanjutkan perjalanan.



       Di bagian depan Nara Park terdapat kuil Kofukuji yang dibangun oleh Klan Fujiwara pada abad ke 8. Pagoda 5 tingkatnya dikatakan sebagai urutan ke 2 pagoda tua tertinggi di Jepang. Pagoda ini pernah terbakar 5 kali sejak pembangunannya. Pagoda yang ada sekarang dibangun ulang pada tahun 1426.

kuil Kofukuji



       Saat sampai ke salah satu bagian taman (Nara Park sangat luas), banyak berkumpul rusa. Nara terkenal akan rusa - rusanya. Disana dijual kue khusus untuk memberi makan rusa yang dinamakan shika senbei. 1 ikat shika senbei dijual seharga 150 yen. Saya pun memutuskan untuk membeli, mencoba untuk memberi makan rusa. Ikatan yang mengikat shika senbei saja belum saya buka, tiba - tiba salah satu rusa melompat keluar dari pagar rendah dan menghampiri minta makan. Rusa - rusa ini cukup agresif saat mencium bau shika senbei. Bahkan terkadang menggigit.



shika senbei
rusa - rusa di taman





peringatan untuk berhati - hati dengan rusa
       Setelah cukup puas memberi makan dan memfoto rusa, saya pergi mencari oleh - oleh. Semua oleh - oleh disini hampir semuanya bertemakan rusa dan dewa rusa. Setelah itu saya memutuskan untuk pulang karena cuaca mendung.

bungkusan kue
kue bertemakan rusa
       Di stasiun, saya bingung apakah kereta yang mau saya naiki sudah benar. Saya memutuskan untuk bertanya kepada seorang ibu, kereta mana yang harusnya saya naiki menuju Tennouji. Saya malah diajak mengobrol oleh ibu tersebut dalam kereta. Ketika hampir mau sampai ke stasiun tujuannya, tiba - tiba ia memberi saya nomor teleponnya. "denwa shite kudasaine" ("telepon saya ya"), ujarnya. Kami pun berpisah.

      Sampai di Tennouji, hujan turun lebat. Tadinya saya ingin coba mampir ke Tennouji Zoo, namun apa boleh buat. Dari Tennouji saya langsung bertolak pulang menuju Wakayama.